Selasa, 24 Oktober 2017

Wawasan Nusantara~

| | 0 komentar

KELOMPOK 1
WAWASAN NUSANTARA
Dosen : Mutiara, SIkom
Nama   Kelompok       : Achmad Abdillah/                30416050
              Adi Dahni/                            30416143
                                      Annisa Nur Ibrahim Putri/    30416952
                                      Desi Ayu Kumalasari/           31416833
                                      Fadhlurrohman/                     32416451
                                      Israfi Maulana Iqbal/             33416623
                                      Nalom Yoshua Ramoti/        35416294
                                      Muhammad Ridhwan/          35416057
                                      Muhammad Sandi Hasan/     35416110
                                      Parsintongan Nihadameon/   35416728
              Rizky Agustian F/                 36416589
                                      Sandi Lesmana/                     36416810
                                      Sindy Kartika Devi/              37416054
                                      Sintiya Nurmayanti/              37416068 

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNIK INDUSTRI
2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur  penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat, karunia, dan izinnya kami sebagai penulis dapat menyelesaikan susuan makalah ini dengan judul “Wawasan Nusantara” dengan baik dan tepat waktu. Adapun tujuan penulisan makalah ini sebagai syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah pendidikan kewarganegaraan.
            kami selaku penulis menyadari bahwa dalam penyelesaian makalah mengalami berbagai kesulitan. Namun berkat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, akhirnya makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.
Penulis pun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, dengan rendah hati penulis menerima kritik dan saran yang membangun untuk penyempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis, pembaca, serta masyarakat luas. Dan juga semoga dapat membukaan pikiran para pelajar untuk lebih memikirkan tahap yang paling penting dalam menata hidup untuk mencapai kesuksesan.


Depok, Oktober 2017.

Penulis.
BAB I
PENDAHULUAN
I.1        Latar Belakang
Wawasan nusantara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang mencakup kehidupan politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan harus tercemin dalam pola pikir, pola sikap, dan pola tindak senantiasa mengutamakan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan pribadi dan golongan. Untuk itu, wawasan nusantara menjadi nilai yang menjiwai segenap peraturan perundang-undangan yang berlaku pada setiap dan strata di seluruh wilayah negara, sehingga menggambarkan sikap dan perilaku, paham serta semangat kebangsaan atau nasionalisme yang tinggi yang merupakan identitas atau jati diri bangsaIndonesia.
Dalam mewujudkan tujuan nasional banyak mengalami kendala, baik dalam konsep maupun implementasinya. Setiap bangsa memiliki wawasan tersendiri, begitu pun bagi masing-masing negara. Dalam penyelenggaraan kehidupannya tidak terlepas dari pengaruh lingkungan dimana negara itu berada yang didasarkan pada hubungan timbal balik dalam semua aspek didalam suatu negara. 
Wawasan nusantara diharapkan mampu menyatukan pandangan yang berbeda-beda dalam masyarakat dan memberikan solusi untuk mendasari Ketahanan Nasional suatu bangsa, sehingga tujuan nasional dapat terealisir. Dalam Wawasan Nusantara dan Ketahanan nasional sebagai konsep pemikiran bersifat inklusif menerima pembaharuan masukan untuk kepentingan kemajuan bagsa. Menurut pemikiran Rizal Ramli bangsa ini akan cepat makmur jika pemimpin-pemimpin kita melakukan transformasi seluruh hidupnya untuk kepentingan rakyat; baik pemikirannya, seluruh hartanya, Waktu dan tenaganya, segalanya untuk kepentingan rakyat dan bersedia tampil untuk kepentingan rakyat.


2.2       Tujuan Penulisan
            Adapun tujuan penulisan makalah Wawasan Nusantara ini adalah sebagai berikut:
1.                  Mengetahui garis-garis besar wawasan nusantara
2.                  Mengetahui aspek-aspek wawasan nusantara yang ada di Indonesia
3.                   


2.3       Rumusan Masalah
           Di dalam makalah ini mempunyai beberapa rumusan masalah antara lain:

1. Pengertian dari Wawasan Nusantara
2. Unsur-unsur dasar wawasan nusantara
3. Kedudukan,fungsi dan tujuan wawasan nusantara







BAB II
PEMBAHASAN


2.1       Pengertian Wawasan Nusantara
1.      Wawasan artinya pandangan, tinjauan, penglihatan atau tanggap indrawi. Selain menunjukkan kegiatan untuk mengetahi serta arti pengaruh-pengaruhnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. penglihatan atau tanggap indrawi, Wawasan juga mempunyai pengertian menggabarkan cara pandang, cara tinjau, cara melihat atau cara tanggap incrawi.
2.      Nasional menunjukkan kata sifat, ruang lingkup, bentuk kata yasng berasal dari istilah nation berarti bangsa yang telah mengidentiikasikan diri ke dalam kehidupan bernegara atau secara singkat dapat dikatakan sebagai bangsa yang telah menegara.
3.      Nusantara, istilah ini dipergunakan untuk menggambarkann kesatuan wilayah perairan dan gugusan pulau-pulau yang terletak di atara Samodra Pasifik dan Samodra Indonesia, serta di antara Benua Asia Benua Australia.
4.      Wawasan Nasional merupakan “cara pandang” suatu bangsa tentang diri dan lingkungannya. Wawasan merupakan penjabaran dari falsafat bangsa Indonesia sesaui dengan keadaan geografis suatu bangsa, serta sejarah yang pernah dialaminya. Esensinya; bagaimana bangsa itu memanfaatkan kondisi geografis, sejarahnya, serta kondisi sosial budayanya dalam mencapai cita-cita dan tujuan nasionalnya. Bagaimana bangsa tersebut memandang diri dan lingkungannya. `
5.      Dengan demikian Waasan Nusantara dapat diartikan sebagai cara pandang bangsa Indonesia tentang diri dan lingkungannya berdasarkan ide nasionalnya yang 4 dilandasi Pancasila dan UUD 1945, yang merupakan aspirasi bangsa merdeka, berdaulat, bermartabat, serta menjiwai tata hidup dan tindak kebijaksanaannya dalam mencapai tujuan nasional. Wawasan Nusantara adalah cara pandang, cara memahami, cara menghayati, cara bersikap, cara berfikir, cara bertindak, cara bertingkah laku, bangsa Indonesia sebagai interaksi prosees psikologis, sosiokultural, dengan aspek ASTAGATRA (Kondisi geografis, kekayaan alam dan kemampuan penduduk serta IPOLEKSOSBUD Hankam).

2.2       Wawasan Nusantara Sebagai Wawasan Pembangunan Nasional
Secara konstitusional, Wawasan Nusantara dikukuhkan dengan Kepres MPR No. IV/MPR/1973, tentang Garis Besar Haluan Negara Bab II Sub E, Pokok-pokok Wawasan Nusantara dinyatakan sebagai Wawasan dalam mencapai tujuan Pembangunan Nasional adalah Wawasan Nusantara mencakup:
1.      Perwujudan Kepulauan Nusantara sebagai satu Kesatuan Politik dalam arti:
A.    Bahwa kebutuhan wilayah nasional dengan segala isi dan kekayaannya merupakan satu kesatuan wilayah, wadah, ruang hidup dan kesatuan matra seluruh bangsa, serta menjadi modal dan menjadi modal dan milik bersama bangsa.
B.     Bahwa Bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku dan berbicara dalam berbagai bahasa daerah, memeluk dan meyakini berbagai agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa harus merupakan satu kesatuan bangsa yang bulat dalam arti seluas-luasnya.
C.     Bahwa secara psikologis, bahwa bangsa Indonesia harus merasa satu, senasib sepenanggungan, sebangsa dan setanah air, serta mempunyai satu tekad di dalam mencapai cita-cita bangsa.
D.    Bahwa Pancasila adalah adalah satu-satunya falsafah serta ideologi bangsa dan Negara, yang melandasi, membimbing dan mengarahkan bangsa menuju tujuannya.
E.     Bahwa seluruh Kepulauan Nusantara merupakan satu kesatuan hokum dalam arti bahwa hanya ada satu hokum yang mengabdi kepada kepentingan nasional.
2.      Perwujudan Kepulaun Nusantara sebagai Kesatuanj Sosial dan Budaya dalam arti:
A.    Bahwa masyarakat Indonesia adalah satu, perikehidupan bangsa harus merupakan kaehidupan yang serasi dengan terdapatnya tingkat kemajuan masyarakat yang sama, merata dan seimbang serta adanya keselarasan kehidupan yang sesuai dengan kemajuan bangsa..
B.     Bahwa budaya Indonesia pada hakekatnya adalah satu, sedangkan corak ragam budaya yang ada menggambarkan kekayaan budaya yang menjadi 5 modal dan landasan pengembangan budaya bangsa seluruhnya, yang hasil-hasilnya dapat dinikmati oleh seluruh bangsa Indonesia.
3.      Perwujudan Kepulauan Nusantara sebagai satu kesatuan Ekonomi dalam arti :
A.    Bahwa kekayaan wilayah Nusantara baik potensial maupun efektif adalah modal dan milik bersama bangsa, dan bahwa keperluan hidup sehari-hari harus tersedia merata di seluruh wilayah tanah air.
B.     Tingkat perkembangan ekonomi harus serasi dan seimbang di seluruh daerah, tanpa meninggalkan cirri khas yang dimiliki oleh daerah-daerah dalam mengembangkan ekonominya.
4.      Perwujudan Kepulauan Nusantara sebagai satu Kesatuan Pertahanan dan Keamanan dalam arti:
A.    Bahwa ancaman terhadap satu daerah pada hakekatnya merupakan ancaman bagi seluruh bangsa dan negara.
B.     Bahwa tiap-tiap warga negara mempunyai hak dan kewajiban yang sama di dalam pembelaan Negara (Lemhanas, 1989: 7).
Dengan ditetapkannya rumusan Wawasan Nusantara sebagai ketetapan MPR, maka Wawasan Nusantara memiliki kekuatan hukum yang mengikat semua penyelenggara Negara, semua lembaga kenegaraan dan kemasyarakatan, serta semua warga negara Indonesia . Hal ini berarti bahwa setiap rumusan kebijaksanaan dan perencanaan pembangunan nasional harus mencerminkan hakekat rumusan Wawasasn Nusantara.

2.3       Wawasan Nusantara dan Integrasi Wilayah
Wawasan nusantara sebagai “cara pandang” bangsa Indonesia yang melihat Indonesia sebagai kesatuan politik, ekonomi, sosial budaya dan hankam merupakan landasan dan dasar bagi bangsa Indonesia dalam menyelesaikan segala masalah dan hekikat ancaman yang timbul baik dari luar maupun dari dalam segala aspek kehidupan bangsa. Sebagai landasan kerja bagi penyelenggaraan dan pembinaaan hidup kebangsaan serta hidup kenegaraan perlu didasari oleh GBHN sebagai produk MPR (pasal 3 UUD 1945) dan APBN sebagai produk legeslatif dan eksekutif (pasal 23 ayat 1 UUD 1945). Salah satu manfaat yang paling nyata dari penerapan wawasan nusantara adalah di bidang politik, khususnya di bidang wilayah. Dengan diterimanya konsepsi wawasan nusantara (Konsepsi Deklarasi Juanda) di forum internasional terjaminlah 6 integrasi teritorial kita, yaitu “Laut Nusantara, yang semula dianggap laut bebas” menjadi bagian integral wilayah Indosia. Di samping itu pengakuan landas kontinen Indonesia dan Zone Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEE) menghasilkan pertumbuhan wilayah Indonesia yang cukup besar, sehingga menghasilkan luas wilayah Indonesia yang semula nomor 17 di dunia menjadi nomor 17 di dunia.
Pertambahan luas ruang hidup tersebut di atas menghasilkan sumber daya alam yang cukup besar bagi kesejahteraan bangsa, mengingat bahwa minyak, gas bumi, dan mineral lainnya banyak yang berada di dasar laut, baik di lepas pantai (off shore) maupun di laut dalam. Pertambahan luas wilayah tersebut dapat diterima oleh dunia internasional, termasuk tentangga dekat kita, yaitu Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, India, Australia, dan Papua Nugini yang dinyatakan dengan persetujuan yang menyangkut laut teritorial maupun landas kontinen. Persetujuan tersebut dapat dicapai karena Indonesia dapat memberikan akomodasi kepada kepentingan negara-negara tetangga antara lain bidang perikanan (traditional fishing right) dan hak lintas dari Malaysia Barat ke Malaysia Timur atau sebaliknya.
 Penerapan wawasan nusantara di bidang komunikasi dan transportasi dapat dilihat dengan adanya satelit Palapa dan Microwave System serta adanya lapangan terbang perintis dan pelayaran perintis. Dengan adanya proyek tersebut laut dan hutan tidak lagi menjadi hambatan yang besar sehingga lalu lintas perdagangan dan integrasi budaya dapat lancar jalannya. Penerapan wawasan nusantara di bidang ekonomi juga lebih dapat dijamin mengingat kekayaan alam yang ada lebih bisa dieksploitasi dan dinikmati serta pemerataannya dapat dilakukan karena sarana dan prasarana menjadi lebih baik. Penerapan di bidang sosial budaya terlihat dari dilanjutkannya kebijakan menjadikan bangsa Indonesia yang bhineka tunggal ika, sebangsa, setanah air, senasib sepenanggung, dan berasaskan Pancasila. Tingkat kemajuan yang sama merata dan seimbang terlihat dari tersedianya sekolah di seluruh tanah air dan adanya universitas negeri di setiap provinsi.

2.4       Politik Perbatasan Dalam Konteks Wawasan Nusantara
Kebijakan politik untuk mengamankan wilayah perbatasan belum seperti diharapkan, hal ini terbutkti banyak walayah yang tidak dirurus oleh Jakarta sehingga diklaim oleh negara tentangga seperti diungkapkan oleh Siswono (2005: 4) “ Tahuntahun ini kita dirisaukan oleh berita tentang rapuhnya batas-batas wilayah NKRI. Setelah Pulau Pasir di Wilayah Timor diakui milik Austsralia dan kita menerimanya, Sipadan dan Ligitan diputuskan Mahkamah Internasional menjadi milik Malaysia, tapal batas di Kalimantan digeser hingga 800 meter, pekerja pembuat Mercusuar di Ambalat diintimidasi polisi perairan Malaysia. Lalu lintas batas yang bebas, nelayan-nelayan asing yang mencuri ikan hingga merapat ke pantai-pantai Sumatra (pulau-pulau Rondo di Aceh dan Sekatung di Riau). Semua itu menunjukkan betapa lemahnya negara kita dalam menjaga batas luar wilayah NKRI” (Kompas, 20 April 2005: 4).
Pada tahun 2002 terpampang di surat kabar kapal ikan asing yang meledak terbakar ditembak oleh kapal perang kita. Mengingat setiap hari ribuan kapal asing mencuri ikan di wilayah RI ada baiknya jika setiap bulan 10 kapal pencuri ikan ditembak meriam kapal patroli AL, agar jera. Jikalau yang terjadi penyelesaian damai di laut, maka pencurian ikan akan semakin hebat, dan penghormatan bangsa dan negara lain akan merosot.
Potensi desharmoni dengan negara tetangga adalah masalah perbatasan, tentu tidak nyaman jika diperbatasan selalu tegang. Oleh karena itu perlu penegasan batas wilayah agar saling menghormati wilayah masing-masing negara. Suasana yang harmonis adalah kebutuhan hidup bertetanngga dengan bangsa lain.
Kondisi disepanjang perbatasan Kalimantan dengan kehidupan seberang perbatasan yang lebih makmur dapat mengurangi kebanggaan warga di perbatasan pada negara kita. Pulau-pulau di Kepulauan Riau yang ekonominya lebih berorientasi ke Singapura dengan menerima dolar Singapura sebagai alat pembayaran juga dapat merapuhkan rasa kebangsaan Indonesia pada para penghuni pulau tersebut. Perekonomian di Pulau Mianggas dan Pulau Marampit lebih berorientasi ke Filipina Selatan akan melemahkan semangat kebangsaan warganya.
Pengelolaan wilayah perbatasan perlu segera ditingkatkan dengan membentuk “Kementriaan Perbatasan” yang mengelola kehidupan masyarakat perbatasan agar lebih makmur dan mendapat kemudahan agar dapat mengakses ke daerah lain di wilayah NKRI. Wilyan NKRI perlu dijaga dengan penegasan secara defakto dengan menghadirkan penguasa local seperti lurah, camat seperti polisi dan tentara sebagai simbul kedaulatan negara. Meskipun memiliki ribuan pulau tetapi tidak boleh meremehkan eksistensi salah satu pulau atau perairan yang sekecil apapun pulau atau daratan, dan bila itu wilayah NKRI perlu dipertahankan dengan jiwa dan raga seluruh bangsa ini.
Kasus Ambalat; Bermula dengan lepasnya Timor Timur 1999, kemudian kekalahan diplomasi kita di Mahkamah Internasional dengan kasus Sipadan dan Ligitan , 2002 sehingga kedua pulau tersebut menjadi miliki Malaysia. Lepasnya kedua pulau Sipadan dan Ligitan dengan waktu reltif singkat membuat rakyat Indonesia menjadi trauma akan lepasnya blok Ambalat yang kaya minyak ke tangan Malaysia. Kontruksi bangunan teritorial kita dilihat dari kepentingan nasional begitu rapuh dalam beberapa tahun terakhir ini. Sengketa dua blok wilayah Malaysia dan Indonesia kembali memanas. Masing-masing mengklaim sebagai wilayah mereka. Malaysia memberi nama Wilayah ND6 dan ND7 dan Indonesia memberi nama blok Ambalat dan Ambalat Timur (Rusman Ghazali, Kompas, 28 April 2005; 4)
Menurut Prof. Azmi Hasan, ahli strategi politik Malaysia, bantahan Indonesia sudah diatisipasi bahkan pemerintah Malaysia sudah menyiapkan segala bantahan sengketa Ambalat. Pemerintahan Malaysia tidak meragukan lagi kesahihan kepemilikan atas klaim ND6 dan ND7 sebagai bagian meilikinya atas dasar peta pantas benua 1979. Malaysia melakukan bantahan atas konsesei ekplorasi minyak yang diberikan kepada perusahaan ENI dan Unicoal yang diberikan oleh Pemerintah Indonesia. Bukan hanya itu, dalam tulisannya Prof. Azmi membuat kalkulasi atas kekuatan militer Indonesia jika harus berhadapan dengan kekuatan militer Malaysia. Bahwa TNI tidak berada dalam keadaan optimal akibat embargo militer AS sejak beberapa tahun yang lalu. Sebagai contoh hanya 40% Jet tempur yang dimiliki TNI AU tidak dapat digunakan, karena ketiadaan suku cadang untuk mengoperasikan kekuatan secara penuh. Jet Sukoiw yang dimiliki Indonesia hanya mempunyai kemampuam radar, tanpa dibantu kelengkapan 9 persenjataan yang lebih canggih lainnya. Pendek kata bahwa dalam sengketa ini kekuatan militer TNI juga telah diperhitungkan kekuatannya oleh para ahli strategi di Malaysia sebagai refrensi pemerintah Malaysia dalam menentukan sikap terhadap sengketa di wilayah Ambalat (Rusman Gazali, 2005: 4).


2.5       Wawasan Nusantara dan Integrasi Nasional
Dalam usaha mencapai tujuan nasional masih banyak yang mempunyai pandangan berbeda atau persepsi berbeda. Untuk itu pemerintah Indonesia telah mempunyai rumusan dalam konsep pandangan nasional yang komprehensif dan integral dalam bentuk wawasan nusantara. Wawasan ini akan memberikan konsepsi yang sama pada peserta didik tentang visi ke depan bangsa Indonesia untuk menciptakan kesatuan dan persatuan, sehingga akan menghasilkan integrasi nasional.
Secara teoretis integrasi dapat dilukiskan sebagai pemilikan perasaan keterikatan pada suatu pranata dalam suatu lingkup teritorial guna memenuhi harapan-harapan yang bergantung secara damai di antara penduduk. Secara etimologis, integrasi berasal dari kata integrate, yang artinya memberi tempat bagi suatu unsur demi suatu keseluruhan. Kata bendanya integritas berarti utuh. Integrasi mempunuyai pengertian “to combine (part) into a whole” atau “to complate (something thet is imperfec or incomplete) by adding parts” dan “to bring or come into equality by the mexing of group or races”. Secara teoritis integrasi dapat dilukiskan sebagai pemilikan keterkaitan antar bagian yang menjadi satu. Oleh karena itu, pengertian integrasi adalah membuat unsur-unsurnya menjadi satu kesatuan dan utuh. Integrasi berarti menggabungkan seluruh bagian menjadi sebuah keseluruhan dan tiap-tiap bagian diberi tempat, sehingga membentuk kesatuan yang harmonis dalam kesatuan Negara Republik Indonesia (NKRI) yang bersemboyankan “Bhineka Tunggal Ika”. Integrasi nasional merupakan hal yang didambakan yang dapat mengatasi perbedaan suku, antargolongan, ras, dan 10 agama (SARA). Kebhinekaan ini merupakan aset bangsa Indonesia jika diterima secara ikhlas untuk saling menerima dan menghormati dalam wadah NKRI.
Menurut Sartono Kartodirdjo, integrasi nasional berawal dari integrasi teritorial dan merupakan integrasi geopolitik yang dibentuk oleh transportasi, navigasi, dan perdagangan, sehingga tercipta komunikasi ekonomi, sosial, politik, kultural yang semakin luas dan intensif. Pada masa prasejarah telah terbentuk jaringan navigasi yang kemudian berkembang dan sampai puncaknya pada masa Sriwijaya dan Majapahit serta yang pada zaman Hindia Belanda diintesifkan melalui ekspedisi militer. Pada masa NKRI diperkokoh dengan adanya sistem administrasi yang sentralistik melalui sistem idukasi, militer, dan komunikasi (Sartono Kartodirdjo, 1993: 85)
Menurut Drake integrasi nasional adalah suatu konsep yang multidimensional, kompleks, dan dinamis. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam integrasi nasional antara lain sebagai berikut. Pertama, pengalaman historis yang tampil sebagai kekuasaan yang kohesif, berawal dari penderitaan yang menjadi bagian warisan bersama sebuah negara. Kedua, atribut sosio-kultural bersama seperti bahasa, bendera, bangsa yang membedakan dengan bangsa lain dan yang memungkinkan WNI memiliki rasa persatuan. Ketiga, interaksi berbagai pihak di dalam negara kebangsaan dan adanya interdependensi ekonomi regional (Filip Litay, 1997; 10).
Masyarakat Indonesia sangat heterogin dan pluralistis. Oleh karena itu, bagi integrasi sosial budaya unsur-unsurnya memerlukan nilai-nilai sebagai orientasi tujuan kolektif bagi interaksi antarunsur. Dalam hubungan ini ideologi bangsa, nilai nasionalisme, kebudayaan nasional mempunyai fungsi strategis. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat menggantikan nilai-nilai tradisonal dan primodial yang tidak relevan dengan masyarakat baru. Dengan demikian nilai nasionalisme memiliki nilai ganda, yaitu selain meningkatkan integrasi nasional, juga berfungsi menanggulangi dampak kapitalisme dan globalisasi serta dapat mengatasi segala hambatan ikatan primordial.
Apabila dipikirkan antara integrasi dan nasionalisme saling terkait. Integrasi memberi sumbangan terhadap nasionalisme dan nasionalisme mendukung integrasi nasional. Oleh karena itu, integrasi nasional harus terus dibina dan diperkuat dari waktu ke waktu. Kelalaian terhadap pembinaan integrasi dapat menimbulkan konflik dan disintegrasi bangsa. Sebagai contoh, keinginan berpisah dari NKRI oleh sebagian masyarakat Papua, Aceh, dan Maluku karena selama puluhan tahun mereka hanya sebagai objek dan bukan subjek. Mereka hanya mendapat janji-janji kesejahteraan tanpa bukti dan menentang ketidakadilan di segala bidang. Oleh karena itu, diharapkan pemerintah pusat dapat mengakomodasikan setiap isu yang timbul di daerah
Integrasi nasional biasanya dikaitkan dengan pembangunan nasional karena masyarakat Indonesia yang majemuk sangat diperlukan untuk memupuk rasa kesatuan dan persatuan agar pembangunan nasional tidak terkendala. Dalam hal ini kata-kata kunci yang harus diperhatikan adalah mempertahankan masyarakat dalam keadaan harmonis dan saling membantu atau dalam koridor lintas SARA. Integrasi mengingatkan adanya kekuatan yang menggerakkan setiap individu untuk hidup bersama sebagai bangsa. Dengan integrasi yang tangguh yang tercermin dari rasa cinta, bangga, hormat, dan loyal kepada negara, cita-cita nasionalisme dapat terwujud.
Dalam integrasi nasional masyarakat termotivasi untuk loyal kepada negara dan bangsa. Dalam integrasi terkandung cita-cita untuk menyatukan rakyat mengatasi SARA melalui pembangunan integral. Integrasi nasional yang solid akan memperlancar pembangunan nasional dan pembangunan yang berhasil akan memberikan dampak positip terhadap negara dan bangsa sebagai perwujudan nasionalisme. Dengan berhasilnya pembangunan sebagai wujud nasionalisme, konflik-konflik yang mengarah kepada perpecahan atau disintegrasi dapat diatasi karena integrasi nasional memerlukan kesadaran untuk hidup bersama dalam mewujudkan masyarakat yang harmonis. Negara dan bangsa sebagai institusi yang diakui, didukung, dan dibela oleh rakyat 12 diharapkan mampu mengakomodasikan seluruh kepentingan masyarakat dan memperjuangkan nasip seluruh warga bangsa.



BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
1.      Wawasan nusantara secara garis besar merupakan cara pandang dan sikap untuk menentukan kehidupan berbangsa dan bernegara yang berdasarkan pada ideologi bangsa itu.
2.      Wawasan nusantara di indonesia berdasarkan pada filsafat pancasila, pembangunan nasional, kesatuan politik, ekonomi, sosial dan budaya, pertahanan keamanan, serta kesatuan luas wilayah.




DAFTAR PUSTAKA

Aim Abdulkarim. 2006. Pendidikan Kewarnegaraan Membangun Warga Negara yang Demokratis Volume 1. Jakarta : Grafindo Media Pratama.

Rusman Gazali. 2005 : 4


Lemhanas. 1989 : 7



Read more...

Senin, 20 Maret 2017

Ilmu Sosial Dasar

| | 0 komentar

ILMU SOSIAL DASAR  
PEDOFILIA DI KALANGAN MASYARAKAT




Disusun Oleh :
Nama              : Desi Ayu Kumalasari
NPM               : 31416833
KELAS          : 1ID05


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
2017
Ilmu Sosial Dasar
A.    Latar Belakang Masalah
Manusia merupakan makhul sosial sehingga manusia tidak bisa hidup tanpa orang lain. Di dalam lingkungannya manusia hidup saling membantu satu sama lain.
Ilmu sosial dasar merupakan salah satu ilmu yang dipelajari sebagai bekal yang dapat diharapkan memberi pengetahuan umum serta pengetahuan dasar mengenai konsep-konsep yang dikembangkan untuk melengkapi gejala-gejala sosial yang terjadi di lingkungan nmasyarakat. Sehingga manusia itu sendiri dapat lebih peduli tentang lingkungannya, serta dapat menyelesaikan masalah sosial yang terjadi di lingkungannya.
Secara spesifik kemampuan pribadi yang hendak dicapai melalui mata kuliah dasar umum bertujuan menghasilkan masyarakat Negara sarjana yang berkualifikasi sebagai berikut           :
1.      Taqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, bersikap dan bertindak sesuai dengan ajaran agamanya, dan memiliki tanggang rasa terhadap pemeluk agama lain.
2.      Berjiwa pancasila sehingga segala keputusan serta tindakannya mencerminkan nilai-nilai pancasila dan memiliki integritas kepribadian yang tinggi, yang mendahulukan kepentingan nasiona dibandingan dengan kepentingan diri sendiri.
3.      Memiliki sejarah perjuangan bangsa, sehingga dapat memperkuat kebangsaan, mempertebal rasa cinta kepada tanah air, meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara, mempertinggi kabanggan nasional dan kebangsaan sebagai sarjana nasional.
4.      Memiliki wawasan komprehensif dan pendekatan integral di dalam menyikapi masalah kehidupan, baik sosial, ekonomi, politik, pertahanan keamanan maupun kebudayaan.
5.      Memiliki wawasan budaya yang luas tentang kehidupan bermasyarakat dan secara bersama-sama mampu berperan serta meningkatkan kualitasnya, maupun tentang lingkungan alamiah serta bersama-sama berperan serta dalam pelestariannya.
B.     Pengertian Ilmu Sosial Dasar
Ilmu sosial merupakan sesuatu yang dipahami sebagai suatu perbedaan namun tetap merupakan sebagai satu kesatuan – Peter Herman
Ilmu sosial terdiri dari disiplin ilmu pengetahuan sosial yang bertaraf akademis dan umumnya dipelajari pada tingkat perguruan tinggi – Achmad Sanusi
Ilmu sosial merupakan disiplin intelektual yang mempelajari manusia sebagai makhluk sosial secara ilmiah, memusatkan pada manusia sebagai bagian dari masyarakat dan kelompok atau masyarakat yang ia bentuk - Gross
Ilmu sosial dasar merupakan salah satu ilmu yang mencakup semua aspek di dalam kehidupan, mulai dari sifat seorang individu, interaksi antar individu dan kelompok, dan interaksi anatara kelompok yang satu dengan kelompok yang lainnya.
C.    Tujuan Ilmu Sosial Dasar
Dalam mempelajari ilmu sosial dasar tentu memiliki tujuan yang sangat penting. Dalam tujuannya tersebut, ilmu sosial dasar memiliki tujuan umum dan tujuan khusus, yaitu           :
·         Tujuan umum ilmu sosial dasar
Tujuan umum ilmu sosial dasar yaitu untuk membentuk dan mengembangkan kepribadian serta perluasan wawasan perhatian, pengetahuan, dan pemikiran mengenai berbagai gejala yang ada di dalam lingkungan masyarakatnya.
·         Tujuan khusus ilmu sosial dasar
1.      Memahami dan menyadari adanya kenyataan-kenyataan sosial dan masalah-masalah sosial yang harus diseselesaikan di dalam lingkungan masyarakat sosial.
2.      Menyadari adanya masalah sosial serta turut dalam penyeselesaian masalah sosial dan penanggulangan masalah sosial tersebut.
3.      Memahami bahwa setiap masalah sosial yang timbul di dalam lingkungan masyarakat selalu bersifat kompleks.
D.    Ruang lingkup ilmu sosial dasar
Ruang lingkup ilmu sosial dasar meliputi dua kelompok utama yaitu studi manusia dan masyarakat, dan studi lembaga-lembaga sosial. Yang utama terdiri atas psikologi, sosiologi, dan antropologi. Sedangkan yang kemudian terdiri atas ekonomi dan politik.
Sasaran studi ilmu sosial dasar adalah aspek-aspek yang paling dasar yang ada dalam kehidupan manusia sebagai mahkluk sosial dan masalah-masalah yang terwujud.









Pedofilia di kalangan Masyarakat
Jaringan pedofilia  terungkap Pemerintah hingga facebook diminta turun tangan
Pihak Facebook juga diharapkan secara aktif berkolaborasi dengan aparat hukum di Indonesia. Misalnya dengan memberikan informasi tentang para pelaku kejahatan anak di dalamnya. ICJR dan ECPAT juga minta Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) untuk melindungi anak-anak yang menjadi korban kejahatan seksual orang dewasa.Anak-anak yang menjadi korban itu harus mendapatkan rehabilitasi psikologis agar tidak berujung pada trauma berkepanjangan dan pada akhirnya juga menjadi pelaku kejahatan seksual di masa mendatang. Direktur Eksekutif Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) Supriyadi Widodo Eddyono juga mendesak Kementarian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Kementerian Sosial dalam rangka rehabilitasi itu
Banyaknya masalah ekonomi dan sosial yang melanda Indonesia belakangan ini berdampak pada kompleksitas yang dihadapi oleh anak Indonesia. Hal tersebut ditandai dengan makin maraknya anak yang mengalami perlakuan yang salah, eksploitasi, tindak kekerasan, perdagangan terhadap anak, dan lain lain. Faktanya menunjukkan berbagai pelanggaran terhadap anak di Indonesia terus terjadi, bahkan sampai pada bentuk-bentuk pelanggaran yang tidak dapat di toleransi oleh akal sehat.
Anak-anak sangat rentan untuk menjadi korban dari berbagai jenis tindak pidana. Banyak anak yang menjadi sasaran objek kepuasan dari pelaku tindak pidana. Kasus yang belakangan ini marak terjadi pada anak-anak adalah sebagai korban dari pelaku tindak pidana pedofilia. Kasus penyimpangan seksual terhadap anak di bawah umur ini menjadi hal yang perlu ditangani secara serius agar anak-anak di bawah umur tidak mengalami trauma psikis yang dapat mengganggu mental dan kepribadian anak-anak tersebut.
Saat ini perlindungan hukum untuk anak-anak sangatlah minim. Pelaksanaan dan perlindungan hukum tersebut pun belum dilaksanakan secara baik dan maksimal. Terbukti dengan banyaknya kasus pedofilia yang terjadi di Indonesia. Bahkan, belakangan ini jaringan pedofilia yang bernama “Loly Candy” ini terungkap melalui jejaring sosial Facebook.
Praktek pedofilia akan mengakibatkan dampak negative terhadap anak. Bukan hanya merusak melalui fisik saja, melainkan dapat pula merusak anak melalui mental dan kejiwaan anak tersebut.  Apalagi kebanyakan penderita pedofilia disebabkan karena dirinya dahulu pernah mengalami hal yang sama dengan kata lain pernah mengalami pelecehan seksual serupa pada masa kanak-kanak. Tindak pidana terhadap pelaku pedofilia sangat merugikan korban dan masyarakat luas. Penderitaan korban pedofilia tidak hanya secara fisik saja namun juga secara psikisnya dapat terganggu. Oleh karena itu, korban pedofilia memerlukan perlindungan dan perharian secara hukum.
Hukum di Indonesia yang menjerat pelaku praktek pedofilia tidaklah setimpal dengan apa yang telah diperbuat dan dilakukannya dengan resiko yang dapat merusak masa depan korban. Selain itu perlindungan dari masyarakat terhadap korban pedofilia juga sangat kurang. Perhatian masyakarat khususnya pada anak-anak pada masa sekarang ini lebih terarah pada perilaku anak-anak yang melanggar peraturan hukum, pelaku kriminalitas yang dilakukan oleh sang anak.
Perlindungan hukum kepada anak-anak yang menjadi korban pedofilia pada dasarnya telah diupayakan dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 2 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang meliputi hak atas kelangsungan hidup, hak untuk berkembang, hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat tanpa diskriminasi. Artinya, setiap anak yang menjadi korban pelecehan seksual atau pelaku pedofilia memiliki hak untuk mendapatkan perlindungan hukum secara pasti sesuai dengan hak asasi manusia.
A.    Pengertian Pedofilia
Pedofilia didefinisikan sebagai gangguan kejiwaan pada orang dewasa atau remaja yang telah mulai dewasa (pribadi dengan usia 16 tahun atau lebih tua) biasanya ditandai dengan suatu kepentingan seksual primer atau eksklusif pada anak pra-puber (umumnya usia 13 tahun atau lebih muda, walaupun pubertas dapat bervariasi)
Pedofilia adalah parafilia dimana seseorang memiliki hubungan yang kuat dan berulang terhadap dorongan seksual dan fantasi tentang anak-anak pra-puber dan dimana perasaan mereka memiliki salah satu peran atau yang menyebabkan penderitaan atau kesulitan interpersonal.
Pedofilia adalah gangguan seksual yang berupa nafsu seksual terhadap remaja atau anak-anak di bawah usia 14 tahun. Orang yang mengidap pedofilia disebut pedofil. Seseorang bisa dianggap pedofil jika usianya minimal 16 tahun.
      Pedofilia adalah salah satu kelainan seksual yang termasuk dalam kategori parafilia. Istilah parafilia pertama kali disebutkan oleh seorang psikoterapi bernama Wilhelm Stekel dalam bukunya yang berjudul Sexual Aberation tahun 1925. Parafilia mengacu pada sekelompok gangguan yang melibatkan ketertarikan seksual terhadap objek yang tidak biasa atau aktivitas seksual yang tidak biasa. Parafilia adalah perasaan seksual atau perilaku yang dapat melibatkan mitra seksual tanpa izin, atau yang melibatkan penderitaan atau siksaan oleh satu atau dua pasangan.
      Beberapa kriteria yang termasuk pada pedofilia adalah         :
1.      Minimal 6 bulan secara berulang, intens terhadap fantasi sensual, dorongan seksual atau perilaku yang melibatkan aktivitas seksual terhadap anak pra-remaja atau anak-anak (umumnya usia 13 tahun atau lebih muda).
2.      Seseorang yang menuruti dorongan seksual dikarenakan faktor 5 tahun lebih tua atau usaha untuk menghilangkan stress dan kesulitan pribadi pada dirinya.
3.      Orang tersebut setidaknya 16 tahun atau bahkan 5 tahun lebh tua dari anak pra-remaja atau anak-anak dalam tindakannya.
Secara umum pedofilia digunakan sebagai istilah untuk menerangkan salah satu kelainan perkembangan psikoseksual terhadap individu yang memiliki hasrat erotis abnormal terhadap anak-anak. Keintiman seksual dicapai melalui manipulasi alat genital anak-anak atau melakukan penetrasi penis sebagai atau keseluruhan terhadap alat genetal atau anal genital. Perilaku seksual yang melibatkan anak-anak baik untuk tujuan memuaskan hasrat diri sendiri maupun komersil, dapat memberikan pengaruh negatif bagi perkembangan jiwa anak sehingga anak tersebut memiliki pandangan yang menyimpang mengenai hal yang berhubungan dengan seks dikarenakan pengalaman yang dialaminya.
Pedofilia tidak hanya merujuk pada  pelaku laki-laki, namun juga pada pelaku perempuan. Pedofilia sebenarnya telah terjadi sebelum masa modern. Di Yunani fenomena pedofilia dikenal sebagai bentuk penjantanan pada abad ke 6 Masehi. Penjantanan ini dikaitkan dengan proses spiritual kepercayaan masyarakat Yunani pada masa itu. Kemudian menjadi perdebatan antara proses spiritual dan praktik erotisme. Perilaku orientasi seksual orang dewasa terhadap anak-anak dibawah umur dianggap wajar oleh masyarakat yang memiliki kepercayaan adanya kekuatan supranatural di balik perilaku tersebut. Praktik orang dewasa terhadap anak-anak disebut sebagai proses penjantanan, yaitu hubungan erotis antara laki-laki dewasa dengan anak-anak laki-laki di luar keluarga dekat. Terlepas dari penilaian benar salahnya perilaku tersebut, karena adanya relativisme moral pada suatu budaya dianggap wajar dan di suatu budaya lain dianggap tidak wajar. Begitu juga pada suatu masa dianggap baik dan di masa yang berbeda dianggap kejahatan. Dua contoh penjantanan tersebut menunjukan kesamaan, yaitu praktik seksual yang dilakukan orang dewasa kepada anak-anak dibawah umur, dan adanya believe spiritualitas dalam bentuk erotisme.
Di antara kasus yang ada, pelaku pedofil banyak yang sudah memiliki keluarga sebagai salah satu bentuk kamuflase yang dilakukan untuk menutupi kelainan psikoseksualnya. Dengan memanfaatkan kepolosan anak-anak, para pelaku pidana pedofilia mendekati korbannya dengan menjadi teman atau pendamping yang baik bagi anak dan bahkan kebanyakan pedofil bekerja di sebuah sekolah atau daerah lain yang melibatkan anak-anak sebagai upaya untuk lebih dekat dengan calon korban. Selain itu, upaya lain untuk memuaskan gairah seksualnyam adalah dengan membujuk anak-anak atau korban dengan hal yang bias menarik perhatian sehingga ia mau menuruti apa yang diinginkan oleh pelaku bahkan tidak jarang penderita pedofilia memaksa dengan ancaman terhadap anak-anak di bawah umur untuk mendapatkan kesenangan seksual.
B.     Macam-macam Penyebab dan Dampak Pedofilia
Objek seksual pada pedofilia adalah anak-anak di bawah umur. Pedofilia terdiri dari dua jenis, yaitu        :
1.      Pedofilia Homoseksual, yaitu objek seksualnya adalah anak laki-laki di bawah umur.
2.      Pedofilia Heteroseksual, yaitu objek seksualnya adalah anak perempuan dibawah umur.
Pedofilia memiliki dua tipe yaitu, tipe pertama adalah mereka yang memiliki perasaan tidak mampu secara seksual khususnya apabila berhadapan dengan wanita dewasa. Tipe kedua adalah mereka yang punya perhatian khusus terhadap alat vitalnya.
Penyebab pedofilia diantaranya          :
1.      Hambatan dalam perkembangan psikologis yang menyebabkan ketidakmampuan penderita menjalin relasi heterososial dan homososial yang wajar.
2.      Kecenderungan kepribadian antisosial yang ditandai dengan hambatan perkembangan pola seksual yang matang disertai oleh hambatan perkembangan moral.
3.      Terdapat kombinasi regresi, ketakutan impotent, serta rendahnya tatanan etika dan moral.
Perlu disadari juga bahwa kasus kekerasan seksual terhadap anak identik dengan meningkatnya kasus pornografi terutama melalui internet dan media sosial. Kebebasan dan kemudahan mengakses internet mendukung meningkatnya kasus kekerasan terhadap seksual terhadap anak.
Adapun dampak dari kekerasan seksual terhadap anak yaitu memiliki ciri-ciri sebagai berikut        :
1.      Tanda-tanda perilaku.
·         Perubahan mendadak para perilaku, yaitu dari bahagia ke depresi atau permusuhan, dari bersahabat ke isolasi, atau dari komunikatif ke penuh rahasia.
·         Perilaku ekstrim, yaitu perilaku yang secara komparatif leih agresif atau pasif dari teman sebayanya atau dari perilaku dia sebelumnya.
·         Gangguan tidur, yaitu takut pergi ke tempat tidur, sulit tidur atau terjaga dalam waktu yang lama, dan mimpi buruk.
·         Perilaku regresif, yaitu kembali ke perilaku awal anak tersebut, seperti mengompol, menghisap jempol, dan sebagainya.
·         Perilaku anti-sosial atau nakal, yaitu bermain api, mengganggu anak lain atau binatang, dan tindakan-tindakan lain yang merusak.
·         Perilaku menghindar, yaitu takut akan atau menghindar dari orang tertentu.
·         Perilaku seksual yang tidak pantas, yaitu masturbasi berlebihan, berbahasa atau bertingkah porno melebihi usianya, perilaku seduktif terhadap anak yang lebih muda, dan menggambar porno.
·         Penyalahgunaan alcohol atau obat terlarang lainnya.
·         Bentuk-bentuk perlakuan salah terhadap diri sendiri, yaitu merusak diri sendiri, gangguan makan, berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan beresiko tinggi, percobaan atau melakukan bunuh diri.
2.      Tanda-tanda kognisi
·         Tidak dapat berkonsentrasi (sering melamun dan mengkhayal, focus perhatian terpecah)
·         Minat sekolah memudar (menurunnya perhatian terhadap pekerjaan sekolah dibandingkan dengan sebelumnya)
·         Respon reaksi berlebihan (khususnya terhadap gerakan tiba-tiba dan orang lain dalam jarak dekat)
3.      Tanda-tanda sosial emosional
·         Rendahnya kepercayaan diri (perasaan tidak berharga)
·         Menarik diri (mengisolasi diri dari tema, lari ke dalam khayalan atau ke bentuk-bentuk lain yang tidak berhubungan)
·         Depresi tanpa penyebab yang jelas (perasaan tanpa harapan dan ketidakpercayaan, pikiran dan pernyataan ingin bunuh diri)
·         Ketakutan yang berlebihan (kecemasan, hilang kepercayaan terhadap orang lain)
·         Keterbatasan perasaan (tidak dapat mencintai, tidak riang seperti sebelumnya atau sebagaimana dialami oleh teman sebayanya)
Empat jenis dari efek trauma akibat kekerasan seksual, yaitu            :
1.      Pengkhianatan
Kepercayaan merupakan dasar utama bagi korban kekerasan seksual. Sebagai anak individu percaya kepada orang tua dan kepercayaan itu dimengerti dan dipahami. Namun, kepercayaan anak dan otoritas orang tua menjadi hal yang mengancam anak.

2.      Trauma secara seksual
Perempuan yang mengalami kekerasan seksual cenderung menolak hubungan seksual, dan sebagai konsekuensinya menjadi korban kekerasan seksual dalam rumah tangga.  Korban lebih memilih pasangan sesama jenis karena menganggap laki-laki tidak dapat dipercaya
3.      Tidak berdaya
Rasa takut menembus kehidupan korban. Mimpi buruk, fobia, dan kecemasan dialami oleh korban disertai dengan rasa sakit. Perasaan tidak berdaya mengakibatkan individu merasa lemah. Korban merasa dirinya tidak mampu dan kurang efektif dalam bekerja.
4.      Stigma
Korban kekerasan seksual merasa bersalah, malu, memiliki gambaran diri yang buruk. Rasa bersalah dan malu terbentuk akibat ketidakberdayaan dan merasa bahwa mereka tidak memiliki kekuatan untuk mengontrol dirinya. Korban sering merasa berbeda dengan orang lain, dan beberapa korban marah pada tubuhnya akibat penganiayaan yang dialami. Korban lainnya menggunakan obat-obatan dan minuman alkohol untuk menghukum tubuhnya, menumpulkan inderanya, atau berusaha menghindari memori tersebut.
            Selain itu terdapat masalah besar menyangkut aspek sosial, psikologis, moral sebagai akibat dari kasus pedofilia terutama pada anak sebagai korban. Efek kekerasan seksual terhadap anak antara lain depresi, gangguan stress pasca trauma, kegelisahan, kecenderungan untuk menjadi korban lebih lanjut pada saat dewasa dan cedera fisik untuk anak di antara masalah lainnya. Khusus pelecehan seksual yang dilakukan anggota keluarga sebagai bentuk inses dapat menghasilkan trauma yang lebih serius dan trauma psikologis jangka panjang, terutama dalam kasus inses orang tua.
C.    Penyelesaian Masalah
Penyimpangan seksual pedofilia yang marak terjadi belakangan ini harus segera diatasi agar tidak jatuh banyak korban sehingga masa depan anak bangsa lebih tertata. Selain dari pemerintah, masyarakat, dan orang tua  juga memiliki peran dalam memberantas pedofilia di lingkungannya masing masing. Solusi untuk memberantas pedofilia diantaranya              :
1.      Pemerintah harus memantau konten media yang beredar agar pornografi tidak begitu saja tersebar secara luas.
2.      Para orang tua harus lebih ketat dalam menjaga anaknya.
3.      Apabila sang anak diberi gadget maka para orang tua harus mengawasi dalam penggunaannya agar anak tidak membuka hal hal yang berbau kekerasan atau pornografi.
4.      Memberi sanksi yang tegas terhadap pelaku pedofilia karena telah merugikan korban dan masyarakat luas.
5.      Para orang tua memberitahukan kepada sang anak daerah intim mana saja yang tidak boleh diketahui oleh orang lain.














Daftar Pustaka
Hartomo, H., dan Arnicum Aziz. 1993. MKDU Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: Bumi Aksara.
Januarius, Fabian. 2017. Jaringan pedofilia  terungkap Pemerintah hingga facebook diminta turun tangan. Jakarta: Kompas (18 Maret 2017).
Junaedi, Didi. 2016. Penyimpangan Seksual yang Dilarang Al-Quran. Jakarta: Alex Media Komputindo.
Kartono, Kartini. 2009. Psikologi Abnormal dan Abnormalitas Seksual. Bandung: Mandar Maju
Lis, Siska. 2016. Kejahatan dan Penyimpangan Seksual. Bandung: Nuansa Aulia




Read more...

Gunadarma University

Cute Hello Kitty Kaoani
desiayyy. Diberdayakan oleh Blogger.
 
 

malaaayu | Designed by: Compartidísimo
Images by: Scrappingmar©